iklan cs 970x250
KHAZANAH

Inggris Imbau Muslim Hemat Air Saat Wudu, Kebijakan Ini Tuai Kritik

13
×

Inggris Imbau Muslim Hemat Air Saat Wudu, Kebijakan Ini Tuai Kritik

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Air Bersih. Foto: Shutterstock

Jakarta – Regulator industri air Inggris, Ofwat, tengah menghadapi kritik dari berbagai pihak setelah mengeluarkan imbauan hemat air yang secara khusus menyasar praktik ibadah dan budaya kelompok minoritas.

Lembaga tersebut mengimbau umat Islam di Inggris untuk mengurangi penggunaan air saat berwudu. Selain itu, masyarakat dari komunitas Asia juga dianjurkan untuk lebih hemat air ketika mencuci beras. Melansir Middle East Eye, langkah ini dilakukan melalui proyek “Efisiensi Penggunaan Air di Komunitas Keagamaan dan Masyarakat yang Beragam” yang didanai oleh Ofwat.

Program ini dijalankan melalui kerja sama dengan sejumlah pihak, termasuk South Staffordshire Water, Fakultas Teologi Universitas Cambridge, dan Cambridge Central Mosque, yang dikenal sebagai masjid ramah lingkungan pertama di Inggris.

Salah satu cara yang diuji dalam program tersebut adalah menggunakan satu liter air untuk berwudu sebelum salat. Menurut Ofwat, cara ini dapat menghemat hingga 55 liter air per orang setiap hari. Perhitungan tersebut didasarkan pada penggunaan hingga 12 liter air mengalir setiap kali berwudu yang dilakukan lima kali sehari.

Melalui uji coba tersebut, penghematan air di Cambridge diperkirakan mencapai 5.900 liter per hari.

Ofwat kemudian menyarankan agar panduan hemat air saat berwudu tersebut disebarluaskan melalui saluran televisi Islam. Ofwat juga mengingatkan agar imbauan disampaikan secara hati-hati agar umat Islam tidak merasa disalahkan atau dianggap lebih boros air dibandingkan kelompok masyarakat lainnya.

Meski bertujuan menghemat air, pendekatan tersebut mendapat sorotan dari sejumlah pihak.

Melansir Roya News, imbauan yang menyinggung penggunaan air saat wudu memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat Muslim Inggris dan sejumlah pengamat masyarakat sipil. Mereka mempertanyakan alasan pemerintah menyoroti penggunaan air dalam kegiatan keagamaan kelompok minoritas.

Kritik juga diarahkan kepada perusahaan air yang dinilai seharusnya lebih dulu mengatasi kebocoran pipa. Para pengkritik menilai pemerintah seharusnya mengutamakan perbaikan pipa yang bocor daripada mengatur penggunaan air di ranah rumah tangga dan keagamaan.

Sebuah riset Greenpeace UK pada Juli lalu juga menyoroti persoalan tersebut. Riset itu menemukan 2,87 miliar liter air, setara dengan kapasitas 1.150 kolam renang Olimpiade, terbuang setiap hari akibat kebocoran pipa di Inggris dan Wales. Jumlah air yang terbuang tersebut bahkan lima kali lebih besar daripada air yang dapat dihemat melalui larangan penggunaan air saat musim kemarau.

Menanggapi kritik tersebut, juru bicara Ofwat memberikan penjelasan kepada Middle East Eye. Pihaknya menerangkan bahwa imbauan ini lahir semata-mata karena cuaca kering berkepanjangan pada musim panas lalu. Kondisi ini dinilai sebagai peringatan agar semua pihak lebih peduli dalam menjaga sumber daya air yang terbatas.

Uji coba tersebut, lanjut Ofwat, dilakukan bersama perusahaan air, organisasi amal, dan berbagai kelompok keagamaan. Tujuannya untuk memberikan informasi praktis mengenai cara menghemat air sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Ofwat menegaskan bahwa program tersebut tidak mengatur apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan masyarakat. Lembaga itu juga menyatakan tidak mencampuri pelaksanaan ibadah maupun kegiatan keagamaan. (detikcom)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *