iklan cs 970x250
Internasional

Dibukanya Selat Hormuz Tandai AS-Iran Sepakat Gencatan Senjata

23
×

Dibukanya Selat Hormuz Tandai AS-Iran Sepakat Gencatan Senjata

Sebarkan artikel ini
lustrasi Selat Hormuz. (REUTERS/Stringer)

Jakarta – Amerika Serikat (AS) dan Iran sepakat untuk melakukan gencatan senjata. Gencatan senjata ini ditandai dengan dibukanya Selat Hormuz.

Awalnya gencatan senjata ini diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Dalam pernyataan Trump yang diunggah akun X Gedung Putih seperti dilihat, Rabu (8/4/2026), Trump memberikan syarat kepada Iran. Yakni Iran harus membuka Selat Hormuz secara penuh.

“Berdasarkan percakapan dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dan Marsekal Lapangan Asim Munir dari Pakistan, di mana mereka meminta agar saya menunda penggunaan kekuatan destruktif yang akan dikirim malam ini ke Iran, dan dengan syarat Iran menyetujui pembukaan penuh, segera, dan aman atas Selat Hormuz, saya setuju untuk menangguhkan pengeboman dan serangan terhadap Iran selama periode dua minggu. Ini akan menjadi gencatan senjata dua arah!” kata Trump.

Menurutnya, kesepakatan antara AS dan Iran bakal tercapai. Ia juga berbicara mengenai perdamaian jangka panjang dengan Iran.

“Sudah sangat dekat dengan tercapainya kesepakatan definitif mengenai perdamaian jangka panjang dengan Iran, dan perdamaian di Timur Tengah. Kami telah menerima proposal 10 poin dari Iran, dan percaya bahwa itu merupakan dasar yang dapat dijalankan untuk bernegosiasi. Hampir semua berbagai poin perselisihan di masa lalu telah disepakati antara Amerika Serikat dan Iran, namun periode dua minggu akan memungkinkan kesepakatan tersebut diselesaikan dan dirampungkan,” jelas Trump.

Tanggapan Iran

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran meresponsnya dengan kesiagaan. Iran siap membalas sewaktu-waktu.

“Tangan kita berada di pelatuk, dan begitu musuh melakukan kesalahan sekecil apa pun, kita akan membalasnya dengan kekuatan penuh,” pernyataan Dewan Keamanan Nasional Iran dilansir dari Al-Jazeera, Rabu (8/4).

Dewan Keamanan Nasional Iran mengatakan pihaknya akan mengalokasikan tenggat waktu 2 minggu untuk bernegosiasi dengan AS. Tenggat waktu ini dapat diperpanjang dengan persetujuan kedua belah pihak.

“Penting untuk menjaga persatuan nasional sepenuhnya selama periode ini dan melanjutkan perayaan kemenangan dengan penuh semangat,” lanjutnya.

Dewan Keamanan Nasional Iran meminta seluruh masyarakat, elite, dan kelompok politik di Iran mendukung penuh proses negosiasi ini.

Iran Buka Selat Hormuz

Iran mengatakan akan membuka lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz selama dua minggu. Iran mengumumkan jeda tersebut akan digunakan untuk pembicaraan dengan AS dalam mengakhiri perang.

“Selama dua minggu, jalur aman melalui Selat Hormuz akan dimungkinkan melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran dan dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis,” tulis Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di X dilansir kantor berita AFP, Rabu (8/4).

Negosiasi tersebut akan digelar di Islamabad mulai hari Jumat. Sementara itu, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Republik Islam Iran mengatakan dalam pernyataan terpisah bahwa negosiasi tersebut dijadwalkan berlangsung selama dua minggu tetapi dapat diperpanjang atas kesepakatan bersama.

“Diperpanjang atas kesepakatan bersama para pihak,” tuturnya.

Oman Akan Pungut Biaya Transit

Iran dan Oman berencana untuk memungut biaya transit bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz selama dua minggu gencatan senjata berlangsung. Biaya transit di Selat Hormuz, seperti dilansir CNN dan Associated Press, Rabu (8/4), diperbolehkan untuk dipungut oleh Iran dan Oman sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata AS-Iran yang dimediasi oleh Pakistan.

Kantor berita Iran, Tasnim, juga melaporkan soal biaya transit di Selat Hormuz tersebut, dan menyebutkan bahwa dana dari pungutan itu akan dialokasikan untuk rekonstruksi Iran yang digempur AS dan Israel sejak 28 Februari lalu.

Sedangkan untuk Oman, belum diketahui secara jelas negara itu akan menggunakan dana dari pungutan di Selat Hormuz untuk apa. Kementerian Luar Negeri Oman belum memberikan tanggapan langsung atas laporan tersebut.

Selat Hormuz, yang merupakan jalur perairan strategis untuk pasokan minyak dan gas global, terdampak oleh perang berkelanjutan antara AS dan Israel melawan Iran. Sebelum perang terjadi, sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) global berlayar melalui jalur perairan tersebut.

Aktivitas perlintasan di jalur perairan penting itu telah secara efektif dibatasi sejak awal Maret lalu. Hal tersebut membuat banyak negara menanggung dampak terberat dari gangguan global yang meningkatkan biaya pengiriman dan mendorong harga minyak global lebih tinggi.

Sejak perang dimulai pada akhir Februari, menurut perusahaan intelijen maritim Kpler, aktivitas perlintasan di Selat Hormuz anjlok sekitar 95%, dengan dampaknya dirasakan di seluruh pasar energi global. Hanya beberapa kapal tanker, seperti dari Pakistan dan India, yang berhasil melintas usai negosiasi dengan Iran.

Teheran dilaporkan memungut biaya hingga US$ 2 juta (Rp 34 miliar) per kapal untuk melintasi Selat Hormuz. Tidak diketahui secara jelas apakah ada operator kapal yang telah membayar biaya tersebut. (detikcom)

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *