KENDARI – Di balik seragam tegas dan tugas berat memburu pelaku kejahatan, tersimpan sisi kemanusiaan yang menyentuh hati.
Pemandangan kontras ini ditunjukkan oleh jajaran Tim URC Buser 77 Satreskrim, Intelkam Polresta Kendari, dan Intelmob Polda Sultra saat melakukan pengembangan kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor).
Bukannya disambut dengan perlawanan, para pemburu kriminal ini justru dihadapkan pada realita pilu seorang ibu dan anaknya penyandang disabilitas yang kelaparan di sebuah rumah kontrakan sederhana di Kelurahan Anduonohu, Kecamatan Poasia, Kota Kendari pada Selasa (7/7/2026).
Dua Hari Hanya Minum Air Putih demi Tahan Lapar
Di rumah tersebut, polisi bertemu dengan seorang ibu berusia 27 tahun dan putranya yang baru berusia lima tahun. Mereka merupakan istri dan anak dari AR (26), pelaku curanmor yang sebelumnya telah diringkus oleh aparat kepolisian.
Kondisi ibu dan anaknya yang autis sangat memprihatinkan. Sejak suaminya ditangkap, sang istri kesulitan untuk bertahan hidup sendirian. Jangankan lauk-pauk, sebutir beras pun sudah tidak ada lagi di dalam dapur mereka.
“Kamu sehat, Dek? Sudah makan?” tanya Kasat Reskrim Polresta Kendari, Kompol Welliwanto Malau, dengan lembut.
Pertanyaan sederhana itu langsung meruntuhkan pertahanan hati sang ibu hingga tangisnya pecah seketika. Ia mengaku sudah dua hari terakhir sama sekali tidak menyentuh makanan.
Untuk menahan rasa lapar yang mendera, ibu dan anak ini terpaksa berkali-kali meminum air putih. Saat polisi memeriksa area dapur, ruangan itu memang benar-benar kosong melompong dari segala bahan makanan.
Spontan Rogoh Kocek Pribadi untuk Sembako dan Obat
Melihat pemandangan memilukan tersebut, naluri kemanusiaan para personel kepolisian langsung bergerak spontan. Tanpa menunggu lama, Kompol Welliwanto bersama anggotanya langsung bergegas membelikan berbagai kebutuhan pokok darurat seperti beras, telur, air mineral, popok, hingga makanan ringan untuk sang anak.
Tidak sampai di situ, Kompol Welliwanto bahkan merogoh uang pribadinya demi menebus obat-obatan yang sangat dibutuhkan oleh putranya yang berkebutuhan khusus tersebut.
Mengingat sang ibu tidak memiliki kerabat dekat di Kota Kendari dan tengah mengalami tekanan psikologis yang hebat, Polresta Kendari juga memfasilitasi penuh kepulangannya ke kampung halaman di Kota Baubau dengan menggunakan kapal cepat. Langkah ini diambil agar ia bisa segera berkumpul dan mendapat dukungan moral dari keluarga besarnya.
Korban KDRT, Diancam Senjata Tajam hingga Video Syur
Di balik penderitaan kelaparan itu, terungkap fakta yang jauh lebih kelam mengenai hubungan rumah tangga mereka. Perempuan tersebut ternyata merupakan korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) serta ancaman sadis dari suaminya sendiri, AR.
Selama ini, ia harus hidup dalam bayang-bayang ketakutan karena kerap diancam menggunakan senjata tajam oleh AR agar tidak membocorkan aksi curanmor yang dilakukan oleh sang suami kepada siapa pun.
Lebih bejat lagi, AR diduga kuat sering merekam video hubungan intim mereka tanpa persetujuan dari istrinya. Rekaman tersebut kemudian dijadikan alat pemerasan psikologis. AR mengancam akan menyebarluaskan video tersebut ke media sosial jika sang istri berani meninggalkannya atau melapor ke polisi.
Polisi Dalami Pengancaman dan Eksploitasi Seksual
Kasat Reskrim Polresta Kendari, Kompol Welliwanto Malau, menegaskan bahwa kasus ini kini tidak lagi sekadar perkara curanmor biasa. Pihak kepolisian bergerak cepat untuk mendalami dugaan tindak pidana berlapis yang dilakukan oleh AR terhadap istrinya tersebut.
“Untuk pelaku curanmor, AR, kami masih terus kembangkan kasusnya. Sementara untuk istri dan anaknya, kami bantu seadanya, semoga bisa meringankan beban mereka,” ujar Welliwanto.
Ia juga menambahkan bahwa aksi sosial ini menjadi bukti nyata bahwa tugas kepolisian tidak melulu soal penegakan hukum yang kaku di lapangan.
“Ini menjadi bentuk kepedulian kami di Polresta Kendari. Selain menangkap pelaku, ada nilai-nilai kemanusiaan yang harus terus melekat,” ucapnya.
Menurut istri pelaku curanmor, kehadiran polisi hari itu bukan sekadar penegak hukum yang datang membawa pergi suaminya, melainkan perpanjangan tangan Tuhan yang menyelamatkan nyawanya dan sang anak di tengah kelaparan akut yang hampir merenggut hidup mereka. (Kompascom)






